Video Game Review: Max Payne

It’s retrospect time! *throws confetti* Bisa dibilang bahwa Max Payne merupakan salah satu video game favoritku sepanjang masa. Sewaktu masih duduk di bangku SD, aku hanya memainkan tutorial-nya saja karena aku takut menemui musuh secara tidak sengaja. Memang alasannya terdengar konyol, tetapi aku memaklumi diri kecilku yang dulu. Sekarang, aku sudah berhasil menyelesaikan video game ini dan aku tergugah mengulas Max Payne sebagai sebuah tanda apresiasi terhadap video game bergenre third-person shooter yang inovatif di masanya.

Maxpaynebox
Max Payne

2001/Remedy Entertainment
Platforms: Microsoft Windows, PlayStation 2, PlayStation 4, Xbox, Mac OS, Game Boy Advance, iOS, Android
Genre: Third-Person Shooter, Action, Thriller

Max Payne berhasil menyabet banyak penghargaan dan nominasi video game terbaik pada tahun 2001, termasuk memenangkan penghargaan Best PC Games of the Year dari BAFTA. Karena banyak orang yang berminat dengan Max Payne, video game ini akhirnya dikembangkan menjadi sebuah trilogi. Bahkan, Max Payne sudah dibuat porting-nya untuk beberapa konsol dan mobile devices. Max Payne dapat dikategorikan sebagai salah satu video game yang masih diapresiasi oleh kritikus video game maupun video gamers hingga kini. Ada beberapa pilar penting yang membuat Max Payne menjadi salah satu video game yang tidak lekang oleh waktu.


Gameplay

Max Payne merupakan sebuah video game bergenre third person-shooter dan menawarkan plot cerita yang sangat kental dengan unsur film noir. Pemain menyelesaikan game ini dengan menembak musuh, melakukan platforming, dan menyelesaikan beberapa puzzle sederhana seiring cerita berlanjut. Video game ini juga menyediakan berbagai modes yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Mode “Dead on Arrival” yang hanya memperbolehkan pemain melakukan save game sebanyak tujuh kali untuk setiap chapter, dapat dimainkan ketika pemain berhasil menyelesaikan mode normal. Ada juga mode “New York Minute” yang mengharuskan pemain menyelesaikan setiap chapter dalam periode waktu tertentu.

Sistem bullet time merupakan komponen esensial pertama yang membentuk Max Payne sebagai video game third person-shooter yang revolusioner. Bullet time berfungsi agar pemain dapat menembakkan peluru dalam keadaan slow motion. Meski waktu melambat, pemain dapat membidik dan menembak peluru secara real time. Fitur ini dapat diaktivasi kapan saja (ketika cutscenes sedang tidak diputar, tentunya) dan gauge dari bullet time terisi setiap pemain berhasil menghabisi satu musuh. Pengembang Max Payne sendiri yaitu Remedy Entertainment, mengatakan bahwa sistem ini terinspirasi oleh adegan-adegan menghindari peluru pada film The Matrix.

Max_Payne_Screenshot_30.jpg

Gauge dari bullet time ditampilkan dalam bentuk jam pasir yang ada di layar kiri bawah.

Komponen penting lainnya yang melegenda adalah storyline yang disajikan secara apik dengan graphic novels. Graphic novels dibacakan dengan voice-overs dari sudut pandang tokoh utama dan kadangkala tokoh utama juga membacakan monolog yang sedang terjadi dalam pikirannya. Kosakata yang menghiasi setiap paragraf narasi pun dipilih dengan cerdik sehingga cerita yang dihadirkan tidak berkesan klise. Hebatnya lagi, narasi monolog juga memberikan bayangan bagi pemain tentang seperti apa watak dari tokoh utama tersebut.

Ada sebagian orang yang takjub dengan graphic novels dan ada juga yang heran mengapa narasi cerita tidak dibungkus sebagai animated cutscenes. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan budget pembuatan Max Payne, mengingat Remedy Entertainment saat itu belum bertumbuh menjadi pengembang game yang besar. Selain itu, graphic novels mempermudah para pengembang game dalam merombak penyusunan setiap panel graphic novels bila ada pengubahan cerita.

Max-Payne-1-comic.jpg

Perumpamaan yang brilian dan humor penuh akan sarkasme menjadi ciri khas dari monolog tokoh utama.


Plot

Max Payne merupakan seorang detektif dari bagian NYPD dan ia juga memiliki keluarga yang baru saja dikaruniai seorang anak. Sehabis Max pulang dari kerja pada suatu sore, ia menemukan sebuah coretan pada dinding ruang tamu yang diduga merupakan simbol dari designer drug bernama Valkyr. Ia segera menyadari bahwa rumahnya telah diterobos oleh para pengguna Valkyr saat terdengar tembakan dan teriakan di lantai atas. Max berusaha menyelamatkan keluarganya, tetapi sudah terlambat.

Sesudah istri dan anaknya dimakamkan, Max dipindahkan ke bagian DEA sebagai seorang agen undercover. Max pun bersumpah untuk membalas dendam kematian keluarganya dan mengusut pelaku utama dari kasus kriminal pengedaran Valkyr.


Aftermath

Dari segi gameplay, Max Payne memang asyik dimainkan meskipun pemain hanya melakukan platforming dan menembak musuh. Plot cerita juga berperan penting agar Max Payne terus mengundang rasa penasaran para pemain, meskipun gameplay-nya terdengar sedikit repetitif. Di sisi lain, Max Payne bukanlah video game yang memiliki nilai replayable yang tinggi karena Max Payne lebih ke arah story-driven. Selain itu, Max Payne juga tidak menyediakan fitur multiplayer sehingga pemain merasa enggan untuk bermain Max Payne berkali-kali.

Dari segi karakter, aku sangat menyukai watak dari Max Payne sang tokoh utama. Pengembangan karakter Max seiring cerita berjalan juga patut diacungi jempol. Pada awalnya, Max merupakan seorang detektif yang polos dan kemudian mendewasa menjadi sebuah manifestasi anti-hero. Max menjadi sosok agen undercover karismatik dan terkadang melontarkan lawakan kering, tetapi selalu menanggapi segala sesuatu secara sinis. Video game ini juga menghadirkan karakter femme fatale yang juga menjadi love interest bagi Max.

Aku tidak akan membahas grafika dari Max Payne secara detil, tetapi grafika yang ditampilkan masih relevan dan dapat dinikmati hingga kini. Max Payne memang paling banyak dikritisi dari segi dinamika animasi wajah karakter. Walaupun begitu, aku dapat memaklumi kekurangan itu karena Max Payne dibuat dengan budget yang tergolong kecil. Nuansa warna cakrawala yang ada di dunia Max Payne sangat khas unsur film noir yaitu gelap dan kelabu. Cuaca salju yang hebat pun semakin menambah suasana kelam dari Max Payne.

max_payne_2528pc2529_replay_09

Malam yang kelam tanpa kerumunan orang serta badai salju memberi kesan sunyi nan misterius.

Hal terakhir yang paling aku kagumi dari Max Payne adalah kosakata yang disusun pada setiap monolog dari karakter seorang Max Payne. Tak hanya perumpamaan dan kosakata, penulis naskah cerita pun kadangkala menyelipkan beberapa referensi yang bisa mengenalkan pemain ke hal-hal baru. Beberapa referensi yang disebutkan adalah Humphrey Bogart dan John Woo. Bagi penikmat film sejati, dua nama tersebut sudah tidak asing di telinga. Alur cerita dari Max Payne sendiri pun tidak memiliki plotholes yang fatal. Aku mengangkat topi tinggi kepada sang penulis naskah cerita Max Payne yaitu Sam Lake yang sekarang sedang menjabat posisi creative director di Remedy Entertainment.


Conclusions

This game screams so much noir elements, I’m not gonna lie. Anti-hero, femme fatale, karakter yang bersikap sinis, cerita bertema kejahatan, pembicaraan yang serius, dan bahkan aesthetics-nya sendiri pun sangat menunjukkan unsur film noir yang sempat melejit di era 40-50an. Aku sebagai salah satu fans dari genre film neo-noir pun dapat menikmati Max Payne dan merasa sangat terhibur. Setelah membahas beberapa pilar penting yang dipunyai oleh Max Payne, tak heran bila video game ini sangat dihargai oleh para kritikus maupun publik pada umumnya.

Banyak orang yang membanding-bandingkan kualitas setiap seri dari trilogi Max Payne, tetapi Max Payne 1 merupakan sebuah instant classic dan juga pondasi yang mengawali petualangan seorang Max Payne. Boleh saja mengatakan bahwa trilogi Max Payne tidak perlu diperpanjang, tetapi Max Payne dapat menjadi inspirasi bagi para pengembang video game yang ingin membuat cerita berbau film noir. Max Payne’s journey through the night will always continue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s