Novel Review: Girls in the Dark by Akiyoshi Rikako

“Have you ever…wanted to kill someone?”

22432940

Novel ini sudah cukup lama (sekitar dua tahun lalu) dirilis di Indonesia dan aku sempat melihat novel ini dipajang di etalase depan yang khusus memamerkan buku-buku yang sedang banyak dibeli milik sebuah toko buku ternama. Aku kira novel ini menjelajahi tema horror, dinilai dari cover buku dan sinopsis singkat di cover belakang buku. Aku tidak tertarik untuk membaca Girls in the Dark hingga adikku membeli novel ini pada liburan semester kemarin. Aku pun sempat menanyai adikku apakah novel ini menarik untuk dibaca. Walaupun ia baru mencapai halaman ke-30 sekian, ia malah merekomendasikanku untuk membaca novel ini. Ia pun meminjamkan novel ini kepadaku, meskipun ia belum selesai membacanya. “Aku jarang bisa menyelesaikan novel dalam waktu singkat,” katanya sembari tertawa kering. Halaman demi halaman kubalikkan dalam waktu luangku, penilaianku ternyata salah besar. Novel ini bergenre thriller, salah satu genre novel favoritku sepanjang masa.

Ah, maafkan saya karena terlalu lama mengenang kejadian di masa lalu. Sudah mulai tidak sabar untuk membaca sinopsis dan review-nya ya? Jangan khawatir karena saya akan membacakan sinopsis di paragraf selanjutnya. Silakan pembaca menikmati teh hangatnya dalam ruangan gelap ini.

SMA Santa Maria yang merupakan sekolah khusus putri ternama, digegerkan oleh kejadian mengenaskan yang menimpa salah satu muridnya bernama Shiraishi Itsumi. Itsumi ditemukan tergeletak tak bernyawa di halaman sekolah dengan setangkai bunga lily tergenggam erat pada tangannya. Itsumi merupakan murid yang diidolakan satu sekolah karena ia memiliki paras cantik, selalu mencetak nilai akademik yang gemilang, dan juga merupakan anak dari pemilik SMA Santa Maria. Apakah Itsumi bunuh diri ataukah ia dibunuh? Para anggota dari klub Sastra yang didirikan dan dipimpin oleh Itsumi sendiri, berkumpul pada suatu malam untuk menguak misteri tentang pelaku pembunuh ketua mereka ataukah Shiraishi Itsumi murni melakukan bunuh diri.

Jujur, aku suka sekali dengan gaya bahasa Akiyoshi Rikako, penulis novel ini, dalam membangun klimaks beserta plot twist. Girls in the Dark tidak diceritakan dari sudut pandang satu orang saja, tetapi dibahas dari sudut pandang para anggota klub Sastra. Para anggota klub Sastra sepakat untuk membuat naskah cerita masing-masing mengenai pendapat mereka terhadap Itsumi, kejadian ketika Itsumi meregang nyawa, serta dugaan pelaku pembunuh Itsumi. Walaupun keenam naskah tersebut mengupas topik yang sama, gaya bahasa masing-masing anggota klub Sastra berbeda-beda dan unik. Menurutku, ini adalah cara brilian untuk mengenalkan karakter beserta wataknya kepada pembaca. Penulis tidak menjelaskan watak seorang karakter secara tersurat dan membiarkan karakter-karakter itu hidup untuk menceritakan kisahnya sendiri kepada pembaca.

Selain gaya penulisannya yang terbilang unik, penulis sukses untuk mencuri rasa penasaran pembaca untuk terus menjelajahi setiap paragrafnya. Aku sampai penasaran siapakah sebenarnya pelaku pembunuh Itsumi ataukah pembunuhan ini hanyalah spekulasi belaka. Ketika pembaca tiba di lembar halaman menjelang akhir, BAM! Pembaca disuguhkan plot twist yang tidak akan terduga sebelumnya. Perasaan saat aku usai membaca Girls in the Dark terasa seperti menyelesaikan novelnya Agatha Christie yang berjudul Murder on the Orient Express. Rasanya seperti belum bisa move-on dari dunia novel ini dan tidak ada rasa menyesal untuk membacanya.

Salut dengan Akiyoshi Rikako beserta karyanya dan katanya sekuel dari novel ini baru saja dirilis. Judulnya adalah The Dead Returns dan menyajikan plot cerita yang tak kalah mencengangkan. Genrenya pun sama yaitu thriller dan psychological horror dan aku juga tertarik untuk membeli novel sekuel ini. Semoga Akiyoshi Rikako terus memproduksi karya novel lainnya dan semoga Beliau akan melanjutkan studi S3-nya.

Sekian dari review saya mengenai Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako. Semoga kalian menikmati hasil resensi yang telah saya rangkai. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tehnya? Enak? Oh, jangan merasa panik dulu. Berprasangka buruk itu tidak baik lho. Tenang, saya tidak mencampurkan apa-apa di dalam gelasnya kecuali sebuah kantung teh hijau dan sesendok gula putih manis. Terima kasih sudah bersedia untuk berkumpul bersama dengan saya pada hari ini. Sampai jumpa di lain waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s