Video Game Review: Undertale

Beberapa bulan lalu tak lama setelah Undertale dirilis, seorang YouTuber favoritku yang bernama Cryaotic meng-upload beberapa video let’s play dan walkthrough tentang game Undertale. Awalnya aku tidak tertarik karena grafik game-nya yang tidak terlalu menarik. Aku langsung menutup tab tempat video Undertale episode pertama berada. Aku pun melanjutkan mencari game-game lainnya yang menarik untuk diikuti. Until Dawn, Soma, Far Cry 4, dan lain-lain.

I was so wrong.

I was so fricking wrong.

Goddammit, I was acting like a snob searching for games that had best graphics.

Ketika sedang liburan semester kemarin, aku memutuskan untuk menikmati video let’s play dan walkthrough Undertale karena viewsnya bertambah menjadi banyak setelah video-video itu pertama kali dirilis. Hanya dalam 20 menit pertama, aku langsung jatuh cinta dengan game yang satu ini. Grafik yang seperti pada game yang dibuat dengan RPGMaker, tidak akan dipedulikan karena pemain akan sangat tenggelam dalam plot cerita dan karakter-karakter yang unik. Malah, grafik ini menguatkan kesan positif pemain terhadap Undertale. Pertama-tama, aku akan menjelaskan gameplay dari Undertale dan kemudian diikuti oleh plot cerita Undertale. Here we go.

Gameplay

Undertale adalah game bergenre RPG yang berusaha memadukan beberapa genre lainnya seperti Bullet Hell, Romance, Creepypasta, Puzzle, dan Adventure. Pemain memiliki stat seperti pada game RPG seperti HP, weapon, armor, inventory, LV, gold, dan kills. Pemain juga bisa membeli items di toko-toko dan menjual items pemain. Pada tahap battle ketika pemain dihadapkan dengan monster, pemain dapat memilih apakah pemain dapat mengasihi (Mercy) atau membunuh monster tersebut (Fight). Teknik menyerang monster pada Undertale tidak seperti pada game RPG lainnya, tetapi pemain akan disajikan bullet hell dan pemain harus mampu menghindari bullet hell tersebut. Jika HP pemain mencapai 0 karena terkena bullets, pemain akan game over dan mengulangi dari save point terakhir.

undertale-4.jpg

Moldsmal and Migosp are coming to you!

Keunikan dari Undertale yang menjadi daya tarik bagi penikmat video games adalah pemain bisa mengasihi atau tidak membunuh semua monster yang dihadapi sepanjang game berlangsung. Lebih unik lagi, pemain bisa mengasihi monster dengan syarat bahwa pemain harus melakukan Act terhadap monster tersebut. Option Act sangat bermacam-macam, tergantung pada jenis monster apa yang dihadapi. Jika pemain berhasil mengasihi seluruh monster dan berteman dengan para karakter utama, pemain akan mengambil True Pacifist Route. Keuntungan dari True Pacifist Route ini selain mendapatkan best ending, pemain diberi kesempatan untuk menjelajah dunia Undertale secara menyeluruh. Banyak pemain pun menjadi terikat dengan dunia Undertale dan Undertale menjadi sangat berkesan di hati para pemain karena interaksi mendalam dengan semua karakter di Undertale.

Ada juga dua rute lainnya yaitu Neutral dan Genocide Route. Ketiga rute ini menawarkan tiga ending yang jauh berbeda. Ketiga rute ini juga dapat dicapai apabila pemain memenuhi syarat-syarat tertentu. Namun bagiku, rute yang paling sadis adalah Genocide route. Genocide route dapat dicapai dengan membunuh seluruh monster yang ada di seluruh area game. Banyak orang yang tidak tega menjalani genocide route karena pemain merasa bersalah harus membunuh monster yang sangat likeable. Tanpa adanya interaksi mendalam dan karakter monster yang likeable di Undertale, mungkin pemain tidak akan merasa bersalah melakukan grinding.

Sinopsis

Pada jaman dahulu kala, ada dua kaum berbeda yang hidup berdampingan yaitu kaum manusia dan kaum monster. Kaum manusia memutuskan untuk berperang dengan kaum monster karena suatu hal dan kaum monster akhirnya kalah. Karena kekalahannya, kaum monster harus rela tinggal di bawah tanah dan dikurung oleh segel magis agar monster tidak bisa pergi ke permukaan bumi. Mitos berkata bahwa manusia yang pergi ke bawah tanah tempat monster tinggal, tidak ada yang pernah kembali. Seorang manusia memberanikan diri untuk melihat lubang bawah tanah dari atas di gunung Ebott, tetapi ia tersandung dan jatuh ke bawah tanah. Sembari memandang dunia dari lubang bawah tanah yang meneranginya, ia pun memutuskan untuk melangkahkan kaki demi menjelajahi dunia bawah tanah penuh monster.

Aku sengaja menulis sinopsis game ini hanya dalam satu paragraf karena Undertale bukan game yang layak untuk dijadikan spoiler. Kalau penasaran, silakan main gamenya sendiri hoho. Dijamin tidak akan menyesal kok dan lagipula durasi gameplaynya pun tidak sampai berhari-hari. 😀

Aftermath

after-finishing-a-video-game-that-really-drew-you-into-the-story-and-you-just-feel-empty-inside-did-i-beat-the-game-or-did-the-game-beat-me.jpg

Setelah menonton beberapa video Let’s Play Undertale dan bahkan memainkan Undertale hingga selesai, aku menobatkan Undertale sebagai video game terbaik pada tahun 2015. Jarang sekali aku bisa menemukan game yang sangat berkesan di hati dan memiliki plot cerita menarik serta karakter-karakter yang amat lovable. Undertale membuktikan bahwa grafik bukanlah tolak ukur kesuksesan suatu video game, tetapi semangat dan kesungguhan yang dicurahkan oleh pembuat video game yang membuat video game tersebut mampu menjadi topik hangat di komunitas gaming.

Selain itu, Undertale juga mengangkat banyak topik budaya populer dan mencantumkan referensi populer di setiap dialog lawakan penuh puns dengan apik. Budaya populer atau topik random yang diungkit oleh Undertale adalah lesbian dan gay, anime, biaya untuk kuliah (YeeEAS tEMMIE ApProves it!!), tsundere, dan lainnya. Aku bahkan tidak bisa menulis apa saja references yang dipakai oleh Undertale karena saking banyaknya references yang membuatku merasa cringe in a good way.

Undertale juga memiliki creepypastanya sendiri yaitu seorang karakter bernama W.D. Gaster. W.D. Gaster ini hanya bisa ditemui apabila pemain mengubah nilai registry pada file sistem game. W.D. Gaster menulis dalam font Wingdings, seperti Sans berbicara dalam font Comic Sans dan Papyrus berkata dalam font Papyrus. W.D. Gaster merupakan seorang ilmuwan di dunia monster yang jatuh dari bangunan bernama CORE dan lenyap selamanya. Banyak fans berspekulasi bahwa W.D. Gaster merupakan karakter tersembunyi yang seharusnya tidak dipakai oleh Toby Fox untuk game Undertale. Ada juga yang berpendapat bahwa W.D. Gaster dapat muncul sebagai karakter tetap di sekuel/prekuel Undertale.

hqdefault.jpg

W. D. Gaster

Selidik demi selidik, ternyata Undertale dibuat oleh tim developer kecil dan game ini didanai oleh para donatur di Kickstarter. Aku benar-benar salut dengan Toby Fox yang menciptakan Undertale seperti merawat anaknya sendiri. Toby Fox selain membuat game Undertale, juga membuat soundtrack, plot cerita, dan berkontribusi untuk mendesain beberapa monster dan karakter utama. Toby Fox mengingatkanku pada Kan R. Gao dan ZUN yang sama-sama merupakan one-man programmer dan mereka semua adalah orang-orang jenius yang melakukan breakthrough sepanjang sejarah gaming.

Oh ya, Undertale juga memiliki soundtrack yang sangat BAGUS. Aku sampai nge-capslock karena memang beneran bagus dan soundtrack Undertale masih nongkrong dengan santainya di playlistku dari bulan Februari kemarin hingga sekarang. Karena soundtracknya yang bagus, banyak fans membuat remix dan bahkan mash dengan lagu-lagu lainnya. Bagi yang belum memainkan game Undertale, soundtrack ini juga sangat worth it untuk didengarkan dan apalagi bagi yang sudah menyelesaikan game Undertale.

Fan theories Undertale pun banyak sekali jumlahnya dan fandom Undertale semakin bertambah setiap harinya. Benar-benar menakjubkan membayangkan game indie yang seharga $10 mampu menarik rasa penasaran banyak orang untuk memainkan game tersebut. Akhir kata, selamat untuk Toby Fox dan tim developernya. Semoga kalian bisa membuat game yang lebih menyenangkan dan exciting bagi komunitas gaming di lain waktu.

4629bca1de8be5abccd903b3242dafa5.jpg

:’)

Advertisements

1 Comment

  1. Bame terbaik 2015 itu witcher 3…. dan dlc nya… game terbaik harus bisa mengambil semua aspek , baik cerita maupun grafik… dan selera…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s