Novel Review: Norwegian Wood by Haruki Murakami

“What makes us the most normal is knowing that we’re not normal.”

11297

Pertama kali mengenal nama Haruki Murakami ketika melihat buku 1Q84 dipajang di bagian best-seller di toko buku. Berasa menjadi masokis waktu aku membaca sekilas sinopsisnya yang menjanjikan serta melirik harganya yang tak kalah tinggi. Meski aku tidak jadi membeli 1Q84 karena tidak ada dana, aku terus penasaran untuk menikmati karya-karya Haruki Murakami yang dikenal brilian. Kesempatan itu datang pada akhirnya ketika novel terjemahan Norwegian Wood dalam Bahasa Indonesia dirilis.

Norwegian Wood mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Toru Watanabe yang menceritakan masa lalunya karena tak sengaja mendengar lantunan Norwegian Wood-nya The Beatles di kota Hamburg, Jerman. Watanabe mulai menceritakan perempuan yang sempat disukainya yang bernama Naoko. Naoko adalah teman satu sekolahnya dan juga merupakan kekasih dari sahabat karib Watanabe yang bernama Kizuki. Watanabe pun mulai menyukai Naoko dan mereka tetap menjalin tali asmara tanpa label walaupun terpisah jarak karena Watanabe memilih untuk kuliah di luar kota. Di universitas baru, Watanabe bertemu dengan seorang perempuan periang bernama Midori. Midori, bagi Watanabe, merupakan wujud kebalikan dari Naoko yang bersikap tenang. Dari sinilah, Watanabe didesak untuk memilih Naoko yang lemah lembut atau Midori yang seceria mentari pagi.

(Warning! Spoiler ahead!)

Pertama, aku ingin membahas gaya penulisan Haruki Murakami yang tergolong unik bagiku. Gaya penulisannya pada Norwegian Wood awalnya terlihat sangat presisi dan realistis. Kesan itu terasa ketika aku membaca adegan-adegan intim yang melibatkan Toru dengan beberapa perempuan lain. Sejauh ini, novel-novel yang kubaca menawarkan gaya penulisan yang penuh metafora agar tidak terkesan terlalu vulgar. Sebaliknya, Haruki Murakami tidak gentar untuk menyebut organ-organ vital dan jujur aku pun sedikit canggung membacanya. Namun, mindset-ku yang awalnya menganggap gaya penulisan Haruki Murakami terlalu literal, berubah ketika Haruki Murakami mendeskripsikan permasalahan dan kesengsaraan yang dialami oleh tokoh protagonis pada pertengahan hingga akhir buku. Aku sendiri sulit untuk menjabarkan gaya penulisan Haruki Murakami yang sangat unik dan penuh teka-teki. Pendek kata, terlihat sederhana tetapi kompleks.

Poin kedua yang aku kagumi adalah character development yang dialami oleh Watanabe. Watanabe dikenal sebagai seorang lelaki yang tertutup mengenai hal-hal pribadi, sangat easy-going, dan tidak peduli pada lingkungan sekitar. Character development mulai berkembang ketika Watanabe menerima kabar kematian Kizuki yang disebabkan oleh bunuh diri. Naoko, yang merupakan pacar Kizuki, juga menerima imbas psikologis yang jauh lebih hebat daripada Watanabe akibat kejadian tersebut. Watanabe semakin tertutup hingga bahkan tidak pernah menyebutkan diri ketika diabsen di kelas. Naoko yang dicintai oleh Watanabe pun harus melalui terapi psikologis di daerah terpencil. Anehnya, Watanabe masih terlihat baik-baik saja. Aku pun menyukai karakter Watanabe yang lempeng, tidak pernah mengurusi kehidupan orang lain, dan santai terhadap situasi realita kehidupan.

Namun, Watanabe pun menyerah pada kebohongannya sendiri untuk tetap tegar saat mendengar kejadian Naoko meregang nyawanya sendiri. Pikiran Watanabe menjadi kosong serta rapuh dan Watanabe menjauhkan diri dari Midori. Tokoh protagonis melakukan perjalanan tanpa arah untuk meredakan tekanan batini dan sesekali menangis di tempat persinggahan. Suasana Norwegian Wood yang awalnya ethereal karena kehadiran tokoh-tokoh dengan watak unik, berubah seketika menjadi genangan lumpur gelap yang siap menghisap pembaca secara perlahan.

Poin ketiga yang amat menarik adalah ending dari novel ini. Ada yang bilang bahwa penulis Jepang memang sering menciptakan ending yang terbuka bagi interpretasi pembaca. Inti dari endingnya adalah Watanabe menelepon Midori dari tempat yang tidak kenal olehnya. Ada yang berpendapat bahwa Watanabe tidak sepenuhnya sembuh secara psikologis dan Watanabe mengalami alzheimer karena tidak bisa mengingat tempat di sekelilingnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ending itu adalah metafora dari Watanabe yang akhirnya memilih Midori dan kesadaran diri Watanabe untuk menerima realita dan tidak mengapung dalam dunia masa lalu.

Hal terakhir yang masih membuatku amazed dan sekaligus heran adalah Watanabe tidak pernah murni mencintai tokoh-tokoh perempuan yang pernah ditidurinya. Ia bahkan tidak bisa mengingat mantan pacarnya secara detil (hmm…asumsi Watanabe mengidap alzheimer semakin kuat). Ia hanya sekedar menyukai mereka dan menikmati lekuk tubuh mereka dalam semalam atau lebih. Bahkan, ia mengakui bahwa ia tidak pernah mencintai Naoko. Terdengar absurd memang, tetapi itulah misteri teka-teki yang dimiliki oleh buku ini.

Overall, Norwegian Wood sekilas berkesan self-explanatory, tetapi anggapan itu seketika berubah ketika pembaca mencicipi setiap paragraf dan dialog pada menjelang akhir buku. Karakter-karakter unik yang dihadirkan pun seperti pada dongeng, tetapi mereka pun sama seperti kita ketika dihadapkan pada problematika kehidupan. Karena Norwegian Wood, aku akan membaca karya Haruki Murakami yang lainnya, terutama Kafka on the Shore yang memiliki susunan plot yang jauh lebih kompleks dan surreal daripada Norwegian Wood.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s