Experience of Writing A Story on “Stories from the Heart” Kaskus Forum

Pertama kali tahu dengan forum Stories from the Heart atau SFTH awalnya dari teman-teman yang antusias dalam membagikan sebuah cerita romansa. Cerita itu konon katanya booming dan dianggap sebagai salah satu cerita terbaik yang pernah ditulis di forum itu. Aku sempat membacanya sekilas dan plotnya memang menarik, tetapi masih membutuhkan editor yang teliti dan jeli dalam memperbaiki segala kesalahan EYD dan penulisan kata. Sayangnya, aku kurang rajin mengikuti cerita yang masih on-going jadinya aku tidak membaca cerita itu sampai selesai.

Tiba-tiba, salah satu temanku yang sempat membagikan cerita yang legendaris di forum SFTH, mengumumkan bahwa ia telah membuat cerita tentang kehidupan romansanya di masa lalu. Kami semua pun membaca cerita yang dibuat oleh temanku dan saling berbagi saran dan kritik. Teman-temanku pun menyarankan agar penulis bersembunyi di balik topeng anonim dan penulis juga menuruti saran itu. Menurut kami, permasalahan yang fatal bisa terjadi apabila mantan pacar penulis mengetahui bahwa masa lalunya dibagi-bagi ke forum bebas tanpa minta izin.

Aku akhirnya tertarik untuk ikut menulis cerita di forum itu sebagai anonim dan dalam proses menulis cerita tersebut, banyak hal yang terjadi di luar dugaan. Contohnya adalah berbaikan dengan teman yang sempat kuanggap sebagai “orang asing” selama bertahun-tahun. Kuakui bahwa menulis cerita tentang kisah romansaku pada masa lalu mempengaruhi pola pikirku. Dendam terhadap “orang asing” itu juga sudah lenyap dan memori sudah menghilangkan kapasitas untuk menyimpan kejadian pahit di masa lalu. Write to heal.

Sampai berbulan-bulan kemudian, ada penulis lain di forum SFTH yang kagum dengan gaya penulisanku. Ternyata, penulis ini tidak menghargai privasiku dan dia akhirnya membongkar identitasku. Aku mengetahui hal ini karena penulis tersebut ternyata berbagi info dengan temanku yang menulis di SFTH. Dia sampai menginterogasi temanku karena menurutnya, aku dan temanku terlihat akrab walaupun baru kenal (padahal mah udah kenal lama, cuman pura-pura jadi kenalan baru di forum demi menjaga privasi).

Akhirnya, aku mengirim pesan pribadi kepada stalker tersebut dan dia akhirnya meminta maaf. Dia meminta maaf karena dia tidak bisa menahan rasa penasaran. Aduh, padahal sudah dibilang kalau aku ingin menjadi anonim di kata pengantar cerita. Ya sudahlah karena sudah terjadi ini.

Stalker itu pun anehnya tiba-tiba berhenti menulis cerita dan bahkan berniat untuk menghapus thread yang telah dibuat olehnya. Wew, aku juga kaget tetapi tidak memusingkan alasan mengapa stalker itu berniat menghapus karya tulisnya dari forum. Tak hanya aku dan stalker itu yang niat menulisnya aus karena rasa penasaran orang tak dikenal, banyak juga penulis di SFTH yang mengundurkan diri dan bahkan menghapus thread mereka. Kadang-kadang aku juga heran apa manfaatnya orang-orang untuk mengobrak-abrik anonimitas seseorang tanpa izin, but wellI guess the cure for our boredom is curiosity.

Sejak kejadian itu, aku mulai tidak tertarik dan enggan untuk mengunggah postingan karya tulis ke forum itu. Kurasa forum itu sudah mulai kehilangan daya tariknya akibat privasi para penulis dibongkar, junker yang merajarela, dan flamer yang menyudutkan penulis yang sudah susah payah merangkai kata tentang pengalaman masa lalunya. Menurutku, menulis tentang pengalaman masa lalu yang pahit itu tidak mudah karena penulis seperti yang terpaksa harus menggali memori yang sudah dikubur di alam bawah sadar.

Mungkin, aku akan melanjutkan ceritaku yang belum selesai itu suatu hari ketika waktunya sudah tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s